DILEMA : Tiga cerita untuk satu rasa
DILEMA
Tiga Cerita Untuk Satu Rasa
Karya : Alvi Syahrin
Karya : Alvi Syahrin
BAB 5 (1)
Cahaya matahari menelusuri sebuah kamar melalui celah celah gorden. Menjatuhkan sinarnya tepat di wajah seorang cowok 19 tahun. Mengaburkan mimpi dalam tidurnya. Ia kemudian tersadar dalam mata terpejam. Lalu perlahan lahan membuka matanya. Samar samar, dilihatnya seorang gadis berdiri di dpn cermin.
"tumben banget" celetuk cowok dgn suara berat itu kepada adik perempuannya. Maksudnya, ini masih pukul sembilan dan tidak biasa adiknya sudah bangun jam segini saat weekend.
"Temen gue mau dateng" sahutnya singkat sambil memandang kakaknya dari cermin.
Kevin, sang kakak, mengulet tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit langit kamarnya dgn begitu lama. Kemudian, beranjak ke kamar mandi yg terletak di dalam kamarnya. Hendak menyikat gigi dan cuci muka supaya segar.
Sementara kira, sang adik, terus mematut dirinya di depan cermin. Mengoles lipgloss supaya bibirnya tidak terlihat kering. Melapisi wajahnya dgn bedak tipis karena ia tidak mau wajahnya kelihatan berminyak. Dan sekarang, ia sedang berpikir bagaimana caranya menyembunyikan jerawat di dahinya. Jerawat ini hanya sebutir, tetapi benar benar berefek besar pada penampilannya.
Kira mungkin tidak pernah menghitung sudah berapa menit dia habiskan di depan cermin karena kevin sudah selesai melakukan ritual paginya. Cowok itu sekarang berdiri di depan pintu kamar mandi dgn handuk kecil yg menggantung di lehernya.
"Lo kok nggak selesai selesai ngaca? Cowok ya yang dateng?" tebak kevin sambil menatap adiknya dgn heran. Sekarang, adiknya yg genit itu sedang menempelkan potongan plester kecil di dahinya. Namun, cepat cepat dilepasnya karena merasa aneh.
"Satu cowok. Satu cewek." Kira menyerah mengurus satu jerawat itu. Dengan kesal, ia duduk di atas ranjang kakaknya yg berantakan. Bedcovernya kusut. Bantal bantal diletakkan tidak beraturan. Selimut berwarna merah dengan lambang Manchaster United tidak dilipat, dibiarkan begitu saja ketika kevin turun dari ranjang tadi.
"Terus lo suka sama cowok itu?" ini bukan sebuah tebakan sebenarnya, melainkan sebuah kesimpulan yg tepat. Logikanya, mana ada cewek yg tidak berdandan sebelum bertemu seorang cowok yg disukainya? Hmm, tidak terasa, adiknya yg dulu sering menangis karena kehilangan boneka, sekarang sedang melalui fase ini.
Kira menggeleng dgn ragu. Namun, matanya tidak bisa berbohong.
"oke, cukup tahu kalau lo bohong." kevin tertawa jail, membuat kira terdiam malu.
namun, tawa itu hilang seketika. Kevin mengambil tempat duduk di samping adiknya, di tepi ranjang. Ia mendekatkan bibir hitamnya di dekat telinga kira, berbisik, "jangan terlalu mencintai kalau nggak mau terlalu sakit hati."
"tumben banget" celetuk cowok dgn suara berat itu kepada adik perempuannya. Maksudnya, ini masih pukul sembilan dan tidak biasa adiknya sudah bangun jam segini saat weekend.
"Temen gue mau dateng" sahutnya singkat sambil memandang kakaknya dari cermin.
Kevin, sang kakak, mengulet tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit langit kamarnya dgn begitu lama. Kemudian, beranjak ke kamar mandi yg terletak di dalam kamarnya. Hendak menyikat gigi dan cuci muka supaya segar.
Sementara kira, sang adik, terus mematut dirinya di depan cermin. Mengoles lipgloss supaya bibirnya tidak terlihat kering. Melapisi wajahnya dgn bedak tipis karena ia tidak mau wajahnya kelihatan berminyak. Dan sekarang, ia sedang berpikir bagaimana caranya menyembunyikan jerawat di dahinya. Jerawat ini hanya sebutir, tetapi benar benar berefek besar pada penampilannya.
Kira mungkin tidak pernah menghitung sudah berapa menit dia habiskan di depan cermin karena kevin sudah selesai melakukan ritual paginya. Cowok itu sekarang berdiri di depan pintu kamar mandi dgn handuk kecil yg menggantung di lehernya.
"Lo kok nggak selesai selesai ngaca? Cowok ya yang dateng?" tebak kevin sambil menatap adiknya dgn heran. Sekarang, adiknya yg genit itu sedang menempelkan potongan plester kecil di dahinya. Namun, cepat cepat dilepasnya karena merasa aneh.
"Satu cowok. Satu cewek." Kira menyerah mengurus satu jerawat itu. Dengan kesal, ia duduk di atas ranjang kakaknya yg berantakan. Bedcovernya kusut. Bantal bantal diletakkan tidak beraturan. Selimut berwarna merah dengan lambang Manchaster United tidak dilipat, dibiarkan begitu saja ketika kevin turun dari ranjang tadi.
"Terus lo suka sama cowok itu?" ini bukan sebuah tebakan sebenarnya, melainkan sebuah kesimpulan yg tepat. Logikanya, mana ada cewek yg tidak berdandan sebelum bertemu seorang cowok yg disukainya? Hmm, tidak terasa, adiknya yg dulu sering menangis karena kehilangan boneka, sekarang sedang melalui fase ini.
Kira menggeleng dgn ragu. Namun, matanya tidak bisa berbohong.
"oke, cukup tahu kalau lo bohong." kevin tertawa jail, membuat kira terdiam malu.
namun, tawa itu hilang seketika. Kevin mengambil tempat duduk di samping adiknya, di tepi ranjang. Ia mendekatkan bibir hitamnya di dekat telinga kira, berbisik, "jangan terlalu mencintai kalau nggak mau terlalu sakit hati."
Buku matematika kelas satu? Checked.
Buku kumpulan soal UN? Checked.
Buku tulis kosong? Checked.
Peralatan tulis? Checked.
Estrella menggantung tas berbahan kain di pundaknya. Sebelum keluar kamar, ia melirik penampilannya sejenak di depan cermin. Ia bukan pengikut trend fashion, jadi ia hanya mengenakan T-shirt putih yg tidak ketat. Dilapisi oleh kardigan rajut berwarna pink pucat yg sedikit meramaikan penampilan polosnya. Sebagai bawahannya, ia memakai rok lipit sebetis. Outfit yg terlalu kaku untuk remaja berumur enam belas tahun. Beruntung, rambut cokelat kemerahannya dibiarkan teruarai rapi di punggungnya, memberikan kesan kasual pada penampilannya.
Klakson mobil berbunyi dua kali. Pertanda papanya sudah siap untuk mengantar.
Estrella berlari kecil menuju pintu keluar. Tidak mau membuat papanya menunggu lama. Namun, ia sengaja menghentikan langkah ketika melewati kamar orangtuanya. Pintunya terbuka lebar sehingga dgn jelas ia dapat melihat seprai kusut yg tidak sempat dirapikan. Ia mengintip ke dalam. Kosong. Mama juga tidak ada disana. Kemana? Mengurusi pekerjaannya? Bahkan pada saat weekend? Ia berharap tidak meskipun selalu begitu kenyataannya.
Dan, lihat saja, akan ada pertengkaran nanti malam.
Klakson mobil berbunyi kembali. Kali ini lebih parah dan nyaring. Estrella langsung berlari keluar rumah tak lupa mengunci pintu sebelum meninggalkannya.
Dengan napas berat, estrella masuk ke dalam mobil. Duduk di jok samping papanya. Biasanya, mamanya yg akan selalu duduk disini. Dan, ia duduk di jok belakang dgn perasaan aman.
Melihat mobil yg tak kunjung dihidupkan, estrella menoleh ke arah papanya. Papa sedang memegang setir dgn tegang, sambil memandang pemandangan di balik kaca dgn tatapan kosong.
"Pa?" ucap Estrella, pelan sekali. Namun, beliau langsung tersadar, sedikit kaget mendapati Estrella yg sudah duduk di sampingnya.
Papa segera menghidupkan mesin mobil. Menghangatkannya tak sampai semenit, kemudian menginjak gas secara perlahan.
Mobil berjalan dan mereka tetap saling diam. Bukan bermusuhan, hanya sungkan untuk membuka percakapan. Kekakuan ini sudah menjadi teman mereka sejak pertengkaran pertengkaran rutin tiap malam itu dimulai. Seperti ada jarak antara Estrella dan orangtuanya. Semua topik selalu terasa sensitif jika dibicarakan.
Ketika memasuki jalanan raya yg lumayan lengang, papanya menekan gas lebih dalam. Meningkatkan kecepatan, tetapi tetap terkontrol. Sekilas, beliau menatap Estrella lalu berkata, "kalau papa sama mama pisah nanti..."
Please,Estrella tidak salah denger kan? Tolong katakan ada yg salah pada pendengarannya.
"...kamu mau tinggal sama siapa?"
Ia tidak salah dengar. Tidak ada yg rusak pada pendengarannya. Pertanyaan (atau pernyataan?) tadi terdengar nyata di telinganya. Matanya mendadak memanas, tetapi ia berusaha mempertahankan air matanya. Menyebabkan sakit di kepalanya.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah ingin mendengar pertanyaan mengerikan itu terlontar dari mulut orangtuanya. Namun, lima detik yg lalu cukup membuatnya tahu bahwa doanya tidak dikabulkan.
"Pa...." Estrella hendak melanjutkan, tetapi bibirnya bergetar menahan tangis. Namun, sekuat apa pun ia berusaha, pada akhirnya, air mata itu jatuh juga, mengalir pelan di pipinya. Ini lebih buruk dari kata "kita putus" dari pacarmu.
Papa mengerem mobil ketika lampu merah menyala. Lantas, beliau memandang putrinya yg sedang menangis, tetapi berusaha menghapus air matanya. Sungguh beliau tidak sanggup menatapnya. Kemudian berkata, "papa selalu memutuskan keputusan secara matang. Dan..."
Estrella menatap papanya penuh harap. Kali ini, ia membiarkan air matanya mengalir sampai di dagu. Percuma menghapus air mata yg tak ada habisnya.
"papa akan terus berusaha demi kamu." papa tampak berusaha memaksa sebuah senyum, demi putri semata wayangnya.
"Aku rela, pa, mendengar pertengkaran mama sama papa. Yg penting, aku tetap tinggal sama papa dan mama." Ia berbohong, sekaligus berkata jujur. Lalu, memeluk papanya yg dgn kaku memegang setir, menunggu lampu hijau menyala. Sekilas, beliau menatap kepala putrinya, kemudian menghela napas berat. A little white lie is always happy outside, painful inside.
Buku kumpulan soal UN? Checked.
Buku tulis kosong? Checked.
Peralatan tulis? Checked.
Estrella menggantung tas berbahan kain di pundaknya. Sebelum keluar kamar, ia melirik penampilannya sejenak di depan cermin. Ia bukan pengikut trend fashion, jadi ia hanya mengenakan T-shirt putih yg tidak ketat. Dilapisi oleh kardigan rajut berwarna pink pucat yg sedikit meramaikan penampilan polosnya. Sebagai bawahannya, ia memakai rok lipit sebetis. Outfit yg terlalu kaku untuk remaja berumur enam belas tahun. Beruntung, rambut cokelat kemerahannya dibiarkan teruarai rapi di punggungnya, memberikan kesan kasual pada penampilannya.
Klakson mobil berbunyi dua kali. Pertanda papanya sudah siap untuk mengantar.
Estrella berlari kecil menuju pintu keluar. Tidak mau membuat papanya menunggu lama. Namun, ia sengaja menghentikan langkah ketika melewati kamar orangtuanya. Pintunya terbuka lebar sehingga dgn jelas ia dapat melihat seprai kusut yg tidak sempat dirapikan. Ia mengintip ke dalam. Kosong. Mama juga tidak ada disana. Kemana? Mengurusi pekerjaannya? Bahkan pada saat weekend? Ia berharap tidak meskipun selalu begitu kenyataannya.
Dan, lihat saja, akan ada pertengkaran nanti malam.
Klakson mobil berbunyi kembali. Kali ini lebih parah dan nyaring. Estrella langsung berlari keluar rumah tak lupa mengunci pintu sebelum meninggalkannya.
Dengan napas berat, estrella masuk ke dalam mobil. Duduk di jok samping papanya. Biasanya, mamanya yg akan selalu duduk disini. Dan, ia duduk di jok belakang dgn perasaan aman.
Melihat mobil yg tak kunjung dihidupkan, estrella menoleh ke arah papanya. Papa sedang memegang setir dgn tegang, sambil memandang pemandangan di balik kaca dgn tatapan kosong.
"Pa?" ucap Estrella, pelan sekali. Namun, beliau langsung tersadar, sedikit kaget mendapati Estrella yg sudah duduk di sampingnya.
Papa segera menghidupkan mesin mobil. Menghangatkannya tak sampai semenit, kemudian menginjak gas secara perlahan.
Mobil berjalan dan mereka tetap saling diam. Bukan bermusuhan, hanya sungkan untuk membuka percakapan. Kekakuan ini sudah menjadi teman mereka sejak pertengkaran pertengkaran rutin tiap malam itu dimulai. Seperti ada jarak antara Estrella dan orangtuanya. Semua topik selalu terasa sensitif jika dibicarakan.
Ketika memasuki jalanan raya yg lumayan lengang, papanya menekan gas lebih dalam. Meningkatkan kecepatan, tetapi tetap terkontrol. Sekilas, beliau menatap Estrella lalu berkata, "kalau papa sama mama pisah nanti..."
Please,Estrella tidak salah denger kan? Tolong katakan ada yg salah pada pendengarannya.
"...kamu mau tinggal sama siapa?"
Ia tidak salah dengar. Tidak ada yg rusak pada pendengarannya. Pertanyaan (atau pernyataan?) tadi terdengar nyata di telinganya. Matanya mendadak memanas, tetapi ia berusaha mempertahankan air matanya. Menyebabkan sakit di kepalanya.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah ingin mendengar pertanyaan mengerikan itu terlontar dari mulut orangtuanya. Namun, lima detik yg lalu cukup membuatnya tahu bahwa doanya tidak dikabulkan.
"Pa...." Estrella hendak melanjutkan, tetapi bibirnya bergetar menahan tangis. Namun, sekuat apa pun ia berusaha, pada akhirnya, air mata itu jatuh juga, mengalir pelan di pipinya. Ini lebih buruk dari kata "kita putus" dari pacarmu.
Papa mengerem mobil ketika lampu merah menyala. Lantas, beliau memandang putrinya yg sedang menangis, tetapi berusaha menghapus air matanya. Sungguh beliau tidak sanggup menatapnya. Kemudian berkata, "papa selalu memutuskan keputusan secara matang. Dan..."
Estrella menatap papanya penuh harap. Kali ini, ia membiarkan air matanya mengalir sampai di dagu. Percuma menghapus air mata yg tak ada habisnya.
"papa akan terus berusaha demi kamu." papa tampak berusaha memaksa sebuah senyum, demi putri semata wayangnya.
"Aku rela, pa, mendengar pertengkaran mama sama papa. Yg penting, aku tetap tinggal sama papa dan mama." Ia berbohong, sekaligus berkata jujur. Lalu, memeluk papanya yg dgn kaku memegang setir, menunggu lampu hijau menyala. Sekilas, beliau menatap kepala putrinya, kemudian menghela napas berat. A little white lie is always happy outside, painful inside.
WRITED BY;: ALVIAN M
Komentar
Posting Komentar